You are here: Home Museum Sekilas Tentang Museum Trowulan
Sekilas Tentang Museum Trowulan PDF Print E-mail
Friday, 23 July 2010 22:20

Disbudpar (newsroom) : Keberadaan Museum Trowulan tentu tidak dapat dilepaskan dari kerajaan Majapahit. Kondisi ini ditandai oleh ribuan koleksi yang di display  pada areal museum mulai dari mata uang, perhiasan lampu, alat musik, senjata perang, pedupaan, genta untuk pengiring pembacaan doa dalam upacara keagamaan, dan masih banyak lagi peninggalan yang lainnya.

Luas area Museum 57.255 meter persegi terdiri dari areal penggalian situs Majapahit, dan  bangunan museum, terdapat pula beberapa fasilitas, seperti toko souvenir Amerta yang menjual berbagai macam cindra mata, kaos, pigora, mushola dan lahan parkir kendaraan roda dua maupun roda empat.

Didalam ruangan koleksi benda-benda kuno juga terdapat Prasasti Alasantan. Sebuah prasasti yang menceritakan pada tanggal 5 Kresnapaksa bulan Badrawada tahun 861 saka (6 September 939 m), Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isana Wikrana memerintahkan agar tanah di alasantan di bawah kekuasaan Bawang Mapapan (Ibu dari Rakryan Mapatih 1)

Halu Dyah Sahastra diberi hak otonomi menjadi tanah siwa, arti tanah siwa diberi kekuasaan penuh tidak membayar upeti kepada pemerintahan Majapahit, sedangkan daerah Alasantan kemungkinan sekarang daerah kota Madiun dan Alasantan artinya patokan (tetenger) wilayah kekuasaan pada zaman itu.

Didepan halaman Museum, ada larangan tertulis di plakat yang harus diperhatikan pengunjung yaitu dilarang merusak, mengambil, mengubah bentuk dan / warna, memugar, merusakan benda cagar budaya.

Hal ini tertuang dalam pasal 15 undang-undang No. 5 tahun 1992. "Barang siapa dengan sengaja merusak BCB, dan situs serta lingkungannya di pidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 tahun penjara dan / atau dengan denda setinggi-tingginya seratus juta rupiah, pasal 26 undang-undang No. 5 tahun 1992.

Bagi pengunjung yang ingin melihat museum silahkan mengisi buku tamu yang sudah disediakan oleh pihak pengelola Museum,  dan pengunjung bisa menikmati berbagai koleksi, yang ada di museum tersebut.

Masuk menuju ruang pertama, pengunjung diajak menikmati koleksi logam, ruang koleksi Prasejarah, koleksi batu dan koleksi tanah liat, tepat dibelakang museum terdapat ruangan  peninggalan situs trowulan berupa batu-batu candi, dan patung-patung dijaman kerajaan Majapahit.

Ilustrasi Lambang Majapahit (foto: Wikimapia) Mahasurya Majapahit

Sebelum memasuki ruang koleksi, di tengah sudut ruangan atau di lobi museum, terdapat batu surya Majapahit, batu surya ini sebagai lambang atau simbol  Majapahit, perwujudan sinar matahari,  yang berbentuk 4 lingkaran dan 1 pusat utama, maksudnya Siwa (Pusat), Iswara (Timur), Mahadewa (Barat), Wisnu (Utara), Brahma (Selatan), Sambhu (Timur laut), Rudra (Barat daya), Mahesora (Tenggara), dan Sangkara (Barat laut) sedangkan Dewa Minor sebagai sinar yang memancar. Dan disebutkan juga Surya Majapahit sebagai lambang Negara Majapahit.

Trowulan, diyakini sebagai pusat pemerintahan majapahit, terbukti diareal musem ini terdapat situs permukiman penduduk dengan ukuran panjang 5,2 meter dan lebar 2,15 meter yang terbuat dari batu bata, yang secara keseluruhan bentuk bangunan situs trowulan terbuat dari batu bata merah.

 

Koleksi Batu di museum Trowulan

Pemrakasa museum ini adalah RAA. Kromojoyo Adinegoro yakni Bupati Mojokerto yang pada saat itu bekerja sama dengan Henricus Maclaine Pont asal Belanda, pada tanggal 24 April 1924 mendirikan oudheeidkundige vereeneging Majapahit (OVM). Dan setelah itu Museum berpindah-pindah sampai  beberapa kali dan yang akhirnya, sekarang menempati Museum baru berlokasi di Dusun  Trowulan, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, melalui  jalan Provinsi antara Mojokerto-Jombang.(Mus)

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it