Suasana Masyarakat Madura

Kebudayaan Administrator 24 Februari 2021 10:41:06 WIB

Karakteristik orang Madura yang dibentuk oleh kondisi geografis dan topografis Pulau Madura pada dasarnya lekat dengan budaya masyarakat hidraulis (air). Dan akibat kondisi lahan yang tandus, orang Madura lebih banyak menggantungkan hidup pada laut sehingga mereka pun berpola kehidupan bahari yang penuh tantangan. Inilah yang kemudian melahirkan perilaku sosial yang bercirikan keberanian tinggi, menjunjung tinggi martabat dan harga diri, berjiwa keras, dan ulet dalam hidup. Namun tidak sedikit juga yang memanfaatkan iklim Madura yang cendrung panas yang mencoba peruntungan dengan pertanian seperti halnya, tembakau, Ubi Jalar dan Padi. Kehidupan masyarakat dimadura sebelum ada Jembatan suramadu sangatlah  bergantung kepada dua hal tadi pertanian dan nelayan.

Keuletan dalam mempertahankan hidup dan menjaga martabat dalam kehidupan membuat masyarakat Madura di segani dalam bergaul dengan masyarakat lain atau suku bangsa lain di Indonesia, pencitraan sosok Madura juga selalu diidentikkan dengan Islam. Agama Islam yang sudah "merasuk " sedemikian kuat akhirnya berfungsi sebagai inti kebudayaan yang memuat ajaran moral dan etika yang menyelimuti seluruh kehidupan masyarakat. sikap dan perilaku sosial mereka itu tumbuh harga diri yang kadang-kadang berlebihan dan mengundang munculnya konflik. Oleh karena itu, tindak kekerasan seolah-olah juga lekat dengan pribadi orang Madura.

hal ini juga berawal dari pola kekrabatan dan pola pemukiman yang sengaja dibentuk untuk membentuk karakter masyarakat yang madani dan menjunjung tinggi kekerabatan antara satu dengan yang lain seperti halnya kita melihat masyarakat Madura yaitu melihat dari pola pemukiman tradisional Madura (Tanean Lanjhang) adalah suatu kumpulan rumah yang terdiri atas keluarga keluarga yang mengikatnya. Letaknya sangat berdekatan dengan lahan garapan, mata air atau sungai. Antara permukiman dengan lahan garapan hanya dibatasi tanaman hidup atau peninggian tanah yang disebut galengan atau tabun, sehingga masing-masing kelompok menjadi terpisah oleh lahan garapannya. Satu kelompok rumah terdiri atas 2 sampai 10 rumah, atau dihuni sepuluh keluarga yaitu keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Jadi hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini.

Susunan rumah disusun berdasarkan hierarki dalam keluarga. Barat-timur adalah arah yang menunjukan urutan tua muda. Sistem yang demikian mengakibatkan ikatan kekeluargaan menjadi sangat erat. Sedangkan hubungan antar kelompok sangat renggang karena letak permukiman yang menyebar dan terpisah. Ketergantungan keluarga tertentu pada lahan masing masing. Di ujung paling barat terletak langgar. Bagian utara merupakan kelompok rumah yang tersusun sesuai hierarki keluarga. Susunan barat-timur terletak rumah orang tua, anak-anak, cucucucu, dan cicit-cicit dari keturunan perempuan. Kelompok keluarga yang demikian yang disebut koren atau rumpun bambu. Istilah ini sangat cocok karena satu koren berarti satu keluarga inti.

Terbentuknya permukiman tradisional Madura diawali dengan sebuah rumah induk yang disebut dengan tonghuh. Tonghuh adalah rumah cikal bakal atau leluhur suatu keluarga. Tonghuh dilengkapi dengan langgar, kandang, dan dapur. Apabila sebuah keluarga memiliki anak yang berumah tangga, khususnya anak perempuan, maka orang tua akan atau bahkan ada keharusan untuk membuatkan rumah bagi anak perempuan. Penempatan rumah untuk anak perempuan berada pada posisi di sebelah timurnya. Kelompok pemukiman yang demikian disebut pamengkang, demikian juga bila generasi berikutnya telah menempati maka akan terbentuk koren dan sampai tanean lanjang. Susunan demikian terus menerus berkembang dari masa ke masa.

Pola pemukiman pada masyarakat Madura mempengaruhi pola kehidupan dan Tata krama pada masyarakat Madura, hal ini juga sangat dipengaruhi bentuk rumah masyarakat  Madura yang erat kaitanya dengan nilai kesopanan “andhep Asor” yaitu bentuk atap rumah bagian depan “Sodek’ yang pendek dan tidak memungkinkan Tamu yang memasuki rumah tersebut untuk berdiri tegak , namun harus menunduk kepala untuk memasuki rumah secara tidak langsung menundukkan  kepala menghormati orang yang berada di dalam rumah. Hal ini akhirnya menjadi kebiasaan orang Madura terutama pada masa itu menjadi orang yang mempunyai prilaku yang sopan dan bermartabat. Sehingga pola kehidupan yang keras di padu padankan dengan prilaku atau sikap yang menghormati orang lain manjadikan sosok orang Madura disegani oleh suku-suku lain di Indonesia.

Penulis: Nuris Imam Sholihin, S.Pd (Pamong Budaya Ahli Muda)